Selasa, 28 Agustus 2012

Laporan Praktikum OPT - Identifikasi dan Analisis Vegetasi Gulma


LAPORAN PRAKTIKUM
ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN (PNU 212)

ACARA IV
IDENTIFIKASI DAN ANALISIS VEGETASI GULMA



Oleh:
NAMA                 : Fermi Mirza Alfarisi
NIM                     : A1C010043
ROMBONGAN  : E1 (Kelompok 2)
Asisten                 : Wahyu


KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2011

BAB I
PENDAHULUAN

I. A. Latar Belakang
            Kesehatan tanaman adalah vital terhadap masyarakat dan kemajuan manusia. Kehidupan tumbuhan sangat dipengaruhi oleh faktor luar. Dalam keadaan normal masyarakat tumbuhan dapat mempertahankan keseimbangan biologi satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan ruangan, cahaya, kelemabapan dan makanan. Hal demikian merupakan faktor minimum yang harus dipertahankan untuk tidak dapat diganggu oleh suatu penyebab seperti serangga, nematoda, virus, bakteri, gulma dan penyebab abiotik lainnya. Jadi kemampuan suatu pengganggu untuk dapat menyerang suatu tanaman juga dipengaruhi oleh faktor luar.
Masalah gulma telah menjadi lebih besar dan kerugian yang ditimbulkan Hanya saja keruuga sangat besar. Gulma antara lain didefinisikan sebagai tumbuh-tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang tidak dikehendaki manusia. Hal ini dapat berarti tumbuhan tersebut merugikan baik secara langsung atau tidak langsung atau kadang-kadang juga belum diketahui kerugian/kegunaannya. Nama latin suatu gulma akan sangat berarti karena nama tersebut diterima di internasional. Sebagai contoh jika kita menyebutkan nama babandotan, ahli gulma india atau afrika bahkan mungkin yang berasal dari luar pulau jawa sering tidak mengetahuinya. Tetapi dengan menyebut nama latinnya atau Ageratum conyzoides, L.

I. B. Tujuan

Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat :
     1.Mengetahui dan mengidentifikasi spesies gulma yang tumbuh mengganggu dan bersaing dengan tanaman budidaya yang tumbuh di lahan pertanian, khususnya lahan kering.
   2.Mengetahui komposisi jenis atau spesies gulma, dan dominansi pada suatu vegetasi.


BAB II
    TINJAUAN PUSTAKA

Gulma ialah tanaman yang tumbuhnya tidak diinginkan. Gulma di suatu tempat mungkin berguna sebagai bahan pangan, makanan ternak atau sebagai bahan obat-obatan. Dengan demikian, suatu spesies tumbuhan tidak dapat diklasifikasikan sebagai gulma pada semua kondisi. Namun demikian banyak juga tumbuhan diklasifikasikan sebagai gulma dimanapun gulma itu berada karena gulma tersebut umum tumbuh secara teratur pada lahan tanaman budidaya ( Sebayang. 2005).
Gulma pun memiliki pengertian lain, Gulma adalah tumbuhan yang mudah tumbuh pada setiap tempat yang berbeda-beda, mulai darai tempat yang miskin nutrisi sampai yang kaya nutrisi. Sifat inilah yang membedakan gulma dengan tanaman yang dibudidayakan. Kemampuan gulma mengadakan regenerasi besar sekali, khususnya pada gulma perennial. Gulma perennial dapat menyebar dengan vegetatif. Luasnya penyebaran karena daun dapat dimodifikasikan. Demikian pula bagian-bagian lainnya. Inilah yang memungkinkan gulma unggul dalam persaingandengan tanaman budidaya. (Moenandir,1990)
Gulma adalah tumbuhan yang tumbuhnya salah tempat. Sebagai tumbuhan, gulma selalu berada disekitar tanaman yang dibudidayakan dan berasosiasi dengannya secara khas. Karena luasnya penyebaran, gulma mempunyai berbagai nama sesuai dengan asal daerah dan negarana seperti Weed (Inggris), Unkraut (Jerman), Onkruit (Belanda), dan Tzao (Cina), serta banyak nama yang lainnya. (Moenandir,1990)
Perkembangbiakan gulma sangat mudah dan cepat, baik secara generatif maupun secara vegetatif. Secara generatif, biji-biji gulma yang halus, ringan, dan berjumlag sangat banyak dapat disebarkan oleh angin, air, hewan, maupun manusia. Perkembangbiakan secara vegetatif terjadi karena bagian batang yang berada di dalam tanah akan membentuk tunas yang nantinya akan membentuk tumbuhan baru. Demikian juga, bagian akar tanaman, misalnya stolon, rhizomma, dan umbi, akan bertunas dan membentuk tumbuhan baru (Barus,2003).


Menurut Natawigena (1993), gulma memiliki sifat-sifat yang khas, antara lain:
·         Memiliki sifat tumbuh yang cepat.
·         Mempunyai daya bersaing yang kuat dalam perebutan faktor kebutuhan hidup, baik kompetisi terhadap ruang, air, hara, maupun cahaya.
·         Mempunyai toleransi yang besar terhadap suasana lingkungan yang ekstrim.
·         Mempunyai daya berkembangbiak yang tinggi secara vegetatif atau generatif.
·         Mempunyai sifat dormansi yang memungkinkan untuk dapat bertahan hidup dalam kondisi yang kurang menguntungkan.
·         Alat-alat perkembangbiakan tersebar melalui angin maupun dengan bantuan hewan bahkan oleh manusia.
·         Berkembangbiak pada periode yang panjang.

Gulma dapat dibedakan menjadi beberapa golongan sesuai dengan bentuk daun(daun lebar atau daun sempit), lama hidupnya (setahun atau semusim, dua tahun atau tahunan), serta sari sudut pentingnya (golongan yang sangat ganas dan golongan agak ganas).
Gulma berdaun lebar. Tumbuhan ini mempunyai bentuk daun lebar dari jenis dikotil dan pada umumnya mempunyai lintasan C3.
Gulma berdaun sempit. Tumbuha ini mempunyai bentuk daun sempitnpanjang, dari jenis monokotil dan pada umumnya mempunyai lintasa C4
Gulma semusim atau setahun (annual). Tumbuhan ini menyelesaikan daur hidupnya dari biji, tumbuh sampai mati selama semusim atau setahun. Karena banyaknya biji yang dibentuk, maka persisten.
Gulma tahunan (perennial). Tumbuhan ini menyelesaikan daur hidupnya selama lebih dari dua tahun. Kebanyakan tumbuhan ini membentuk biji banyak untuk penyebaran dan dapt pula menyebar secara vegetatif. Kerena beda cara penyebarannya, maka tumbuhan ini dibagi perennial sederhana dan perennial merayap. Gulma perennial sederhana, hanya menyebar dengan biji, meskipun dapat menyebar secaravegetatif bila tumbuhan ini terpotong, akar lunak dan tumbuh meluas. Gulma perennial merayap menyebar dengan akar yang merayap, stolon (bagian merayap diatas tanah) dan rhizoma (bagian marayap didalam tanah). ( Sudarmo,1991 ).
Cara klasifikasi gulma berbeda-beda berdasarkan morfologinya gulma dapat dibedakan menjadi :
1.Golongan Rerumputan (Gulma Berdaun Sempit/ Grasses). Golongan rerumputan mencakup jenis gulma yang termasuk dalam famili gramineae. Selain merupakan komponen terbesar dari seluruh populasi gulma, famili ini mempunyai daya adaptasi yang cukup tinggi, distribusi amat luas dan mampu tumbuh baik pada lahan kering maupun tergenang. Contoh: Alang-alang, rumput pahit, jampang pahit, kakawatan, gerinting, jejagoan, glagah, jejahean dan bebontengan.
2.Golongan Teki (Sedges). Golongan teki meliputi semua jenis gulma yang termasuk kedalam famili Cyperaceae. Golongan teki terdiri dari 4000 spesies, lebih menyukai air kecuali Cyperus rotundus L. Contoh: rumput teki, walingi, rumput sendayan, jekeng, rumput 3 segi, dan rumput knop.
3.Golongan Berdaun Lebar (Broadleaf Weeds). Golongan gulma berdaun lebar meliputi semua jenis gulma selain famili gramineae dan Cyperaceae. Golongan gulma berdaun lebar biasanya terdiri dari famili paku-pakuan (pteridophyta) dan dicotyledoneae. Contoh: Bayam duri, kremek, jengger ayam, kayu apu, wedusan, sembung dan meniran.  ( Maspary,2010)
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan beberapa cara. Secara preventif, misalnya dengan pembersihan bibit-bibit pertanaman dari kontaminasi biji-biji gulma, pencegahan pemakaian pupuk kandang yang belum matang, pencegahan pengangkutan jarak jauh jerami dan rumput-rumputan makanan ternak, pemberantasan gulma di sisi-sisi sungai dan saluran-saluran pengairan, pembersihan ternak yang akan diangkut, pencegahan pengangkutan tanaman berikut tanahnya dan sebagainya.Secara fisik, misal dengan pengolahan tanah, pembabatan, penggenangan, pembakaran dan pemakaian mulsa. Dengan sistem budidaya, misal dengan pergiliran tanaman, budidaya pertanaman dan penaungan dengan tumbuhan penutup (cover crops). Secara biologis, yaitu dengan menggunakan organisme lain seperti insekta, fungi, ternak, ikan dan sebagainya. Secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan herbisida atau senyawa kimia yang dapat digunakan untuk mematikan atau menekan pertumbuhan gulma baik secara selektif maupun non selektif, kontak atau sistemik, digunakan saat pratanam, pratumbuh atau pasca tumbuh. Secara terpadu, yaitu dengan menggunakan beberapa cara secara bersamaan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya.(Wulan,2009)

Pada dasarnya data yang diperoleh dari analisis vegetasi dapat dibagi atas dua golongan, yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif menunjukkan bagaimana suatu jenis tumbuhan tersebar danberkelompok, stratifikasinya, perioditas, dan lain sebagainya; sedang data kuantitatif menyatakan jumlah, ukuran, berat basah/kering suatu jenis, dan luas daerah yang ditumbuhinya. Data kualitatif didapat dari hasil penjabaran pengamatan petak-contoh di lapangan, sedangkan data kualitatif di dapat dari hasil pengamatan lapangan berdasar luas ( Tjitrosoedirjo, 1984 ).
Parameter dalam analisis vegetasi yang digunakan adalah persentase penyebaran , kerapatan, frekuensi dan dominansi. Selain dinyatakan dalam persen, luas penyebaran komponen vegetasi sering diubah kedalam 5-10 skala abundansi. Kerapatan menunjukkan jumlah individu suatu jenis tumbuhan pada tiap petak contoh. Yang dimaksud frekuensi jenis tumbuhan adalah beberapa jumlah petak contoh (dalam persen) yang memuat jenis tersebut, dari sejumlah petak-contoh yang dibuat. Dominansi, istilah digunakan untuk menyatakan berapa luas area yang ditumbuhi atau kemampuan suatu jenis tumbuhan dalam hal bersaing dengan jenis lainnya. Dominansi dinyatakan dalam istilah kelindungan (coverage) atau luas basal atau biomassa atau volume. Perbandingan nilai penting atau summed dominance ratio (SDR) menunjukkan jumlah nilai penting dibagi jumlah besaran. SDR biasa dipakai karena jumlahnya tidak pernah lebih dari 100%, sehingga mudah diinterprestasi. SDR hanya berharga jika dipakai untuk menunjukkan jumlah dominasi suatu jenis dengan jenis lain dalam suatu komunitas. Dalam suatu analisis vegetasi akan diperoleh beberapa data yang penting yaitu data kualitatif dan data kuantitatif.  (Fitler, A.H. 1981)





BAB III
METODE PRAKTIKUM

III. A. ALAT DAN BAHAN
a. Bahan
Bahan yang digunakan adalah lahan sawah basah dan kering
b. Alat
Alat yang digunakan yaitu :
- Kantong plastik
- Alat square method (50X50cm)
- Buku deskripsi gulma atau herbarium
- Kantong kertas
- Oven
- Timbangan analatik
- Label
- Alat tulis
- Penggaris

III. B. PROSEDUR KERJA
a. Tahap pengambilan gulma:
·         Dilemparkan square method secara acak ke lahan sawah basah
·         Diambil gulma-gulma yang berada dalam square method
·         Dimasukkan gulma ke dalam kantong plastik dan beri keterengan menggunakan label
·         Lakukan ulangan sebanyak empat kali sehingga diperoleh lima data pelemparan pada lahan sawah basah
·         Di lakukan tahap pengambilan gulma pada lahan sawah kering sebanyak lima kali pelemparan
·         Di Cuci gulma yang diperoleh agar bersih dari tanah



b. Tahap Identifikasi
·         Gulma pada masing-masing kantong plastik disusun dan dikelompokan berdasarkan petak dengan tanaman sejenis
·         Di Lakukan pada  semua kantong gulma yang diperoleh
·         Diidentifikasi dan dicari klasifikasinya
·         Di Hitung jumlah gulma dan dicatat pada tabel pengamatan
·         Di Masukan pada kantong kertas, beri keterengan dan diangin-anginkan
·         Masukkan ke dalam oven selama 24jam
·         Di Timbang berat gulma setelah dioven
·         Di Lakukan perhitungan



















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. A. HASIL PENGAMATAN
Tabel I. Analisis sebelum disemprot herbisida
No
Nama Gulma
Petak
Km
Kr (%)
Fm
Fr (%)
Dm (gr)
Dr (%)
NJD(%)
1
2
3
1
Ageratum conyzoides
3
4
16
23
31,51
3/3
25
9,6
36,92
31,143
2
Hydroles spinosa
2
-
-
2
2,74
1/3
8,33
0,4
1,54
4,203
3
Cleome viscosa L
11
6
5
22
30,14
3/3
25
0,4
26,15
27,097
4
Eleusine indica
1
-
2
3
4,1
2/3
16,7
2
7,7
9,5
5
Cynodon dactilon
18
-
-
18
24,66
1/3
8,33
5,5
21,1
18,03
6
Isathne globassa
-
-
3
3
4,11
1/3
8,33
0,8
3,08
5,173
7
Cyperus Rotundus
-
-
2
2
2,74
1/3
8,33
0,9
3,46
4,843

Σ ( jumlah )



73
100
12/3
100
26
100
100


Tabel II. Analisis sesudah disemprot herbisida
No
Nama Gulma
Petak
Km
Kr (%)
Fm
Fr (%)
Dm (gr)
Dr (%)
NJD (%)
1
2
3
1
Ageratum conyzoides
1
-
-
1
2,6
1/3
11,11
0,2
11,11
8,273
2
Eleusine indica
4
3
2
9
23,7
3/3
33,33
0,5
27,78
28,27
3
Cyperus Rotundus
6
  -
-
6
15,79
1/3
11,11
0,2
11,11
12,67
4
Cleome viscosa L
14
1
3
18
47,37
3/3
33,33
0,7
38,89
39,863
5
Isathne globasa
-
-
4
4
10,53
1/3
11,11
0,2
11,11
10,92

Σ ( jumlah )



38
100
9/3
100
1,8
100
100



IV. B. PEMBAHASAN
         
          Berikut ini adalah penjelasan tentang gulma-gulma yang didapatkan sebelum dan setelah pemberian herbisida :

1. AGERATUM CONYZOIDES (Bandotan)
Bandotan (Ageratum conyzoides) adalah sejenis gulma pertanian anggota suku Asteraceae. Terna semusim ini berasal dari Amerika tropis, khususnya Brazil, akan tetapi telah lama masuk dan meliar di wilayah Nusantara. Disebut juga sebagai babandotan atau babandotan (Sd.); wedusan (Jw.); dus-bedusan (Md.); serta Billygoat-weed, Goatweed, Chick weed, atau Whiteweed dalam bahasa Inggris, tumbuhan ini mendapatkan namanya karena bau yang dikeluarkannya menyerupai bau Kambing

Divisio             : Spermatophyta
Klas                 : Dikotiledoneae
Ordo                : Asterales
Familia            : asteraceae
Genus              : Ageratum
Spesies            : Ageratum conyzoides

Deskripsi : Bandotan berbatang tegak mencapai ketinggian pada saat berbunga 60-120 cm. Batang tegak, bulat bercabang, berbulu pada buku-bukunya dan bagian rendah. Daunnya bertangkai cukup panjag, bentuk bulat telur, tepi bergerigi dan berbulu. Duduk daun bawang berhadapan, sedang bagian teratas dan bertangaki pendek.
Ekologi : Gulma ini dapat tumbuh disembarang tempat yang tak tergenang air didaerah tropis dan subtropis dari ketinggian 1-1200 m dpl. Suhu optimal untuk tumbuhnya 16°- 24°C, intensitas cahaya tinggi yang dibutuhkan oleh gulma ini sehingga pertumbuhan diredusir bila ternaungin.
            Morfologi : Herba, 1 tahun, tinggi 10-120 cm. Tegak atau terbaring. Tunggal, bulat telur, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi beringgit, panjang 3-4 cm, lebar 1-2,5 cm, pertulangan menyirip, tangkai pendek, hijau. Majemuk, di ketiak daun, bongkol menyatu menjadi karangan, bentuk malai rata, panjang 6-8 mm, tangkai berambut, ke'opak berbulu, hijau, mahkola bentuk lonceng, putih atau ungu. Padi, bulat panjang, bersegi lima, gundul atau berambut jarang, hitam. Kecil, hitam. Tunggang, putih kotor. Daun Ageratum conyzoides berkhasiat sebagai obat luka baru dan obat wasir, Untuk obat luka baru dipakai + 5 gram daun segar Ageratum conyzoides,dicuci dan ditumbuk sampai lumat, ditempelkan pada luka dan dibalut.Kandungan kimia Daun dan bunga Ageratum conyzoides mengandung saponin, flavonoida dan polifenol, di samping itu daunnya juga mengandung minyak atsiri.











2. HYDROLES SPINOSA
Kingdom                     : Plantae
Subkingdom                : Tracheobionta - Vascular plants
Superdivision              : Spermatophyta - Seed plants
Division                       : Magnoliophyta - Flowering plants
Class                            : Magnoliopsida – Dicotyledons
Subclass                      : Asteridae
Order                           : Solanales
Family                         : Hydrophyllaceae – Waterleaf family
Genus                          : Hydrolea L. – false fiddleleaf


3. CLEOME VISCOSA. L
Cleome adalah genus tanaman berbunga di Cleomaceae keluarga. Sebelumnya telah ditempatkan dalam keluarga Capparaceae, sampai penelitian DNA yang ditemukan genera Cleomaceae lebih terkait erat dengan Brassicaceae dari Capparaceae. Sistem APG II memungkinkan untuk Cleome dan anggota lain dari Cleomaceae untuk dimasukkan dalam Brassicaceae. ..Namun sebuah penelitian DNA terkini gagal memisahkan.Cleome, Podandrogyne dan Polanisia dari satu sama lain, sehingga beberapa taksonomis telah meninggalkan dua terakhir dari genera ini, memperlakukan mereka sebagai bagian dari Cleome sensu Lato. Genus sensu stricto mencakup sekitar 170 spesies tanaman herba tahunan atau perennial dan semak-semak . Dalam hal ini mengandung sekitar 275 Cleome spesies, sebagian besar Cleomaceae tersebut. Sebagai genus mengandung spesies yang menunjukkan kemajuan perkembangan dari fotosintesis C4 C3 untuk fotosintesis. Hal ini dikombinasikan dengan yang menjadi Brassicaceae (dan karena itu terkait erat dengan model yang thaliana spesies tanaman Arabidopsis) membuat sebuah genus yang ideal di mana untuk mempelajari bagaimana fotosintesis C4 terjadi dan bagaimana hal itu berevolusi. Perbedaan morfologis yang menunjukkan transisi dari C3 untuk C4 termasuk spesies C3 memiliki pembuluh darah dan sel bundel yang lebih besar selubung. Ada juga protein hadir dalam spesies seperti Cleome gynandra yang diperlukan untuk fotosintesis C4. Spesies Cleome yang umum dikenal sebagai spiderflowers, spiderplants, spiderweeds, atau beeplants

Kingdom                     : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom                : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi                : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                           : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                           : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas                    : Dilleniidae
Ordo                            : Capparales
Famili                          : Capparaceae          
Genus                          : Cleome
Spesies                        : Cleome viscosa L.
            Ekologi : Genus ini memiliki distribusi subcosmopolitan seluruh daerah beriklim tropis dan hangat dunia
            Morfologi : An annual herbaceous plant with sticky pods. Leaves compound, 3-5 foliate, palmate, flowers yellow in lax racemes from the leaf axils. Fruits capsules, hairy and covered with sticky material. Seeds kidney shaped and turns dark on ripe. 
           
4. ELEUSINE INDICA

Eleusine indica (Rumput belulang) Batang eleusine indica membentuk rumpun yang kokoh dengan perakaran yang lebat, tumbuh tegak atau adakalanya sebagian merambat, membentuk cabang, dan sering membentuk akar pada buku terbawah, tingginya 12-85 cm, bentuk batang agak pipih, upih daun membungkus pangkal batang bertumpang tindih. Helai daun panjang, bentuk garis, bagian pangkal tidak menyempit, ujungnya runcing atau agak tumpul, pada bagian pangkal selalu terdapat beberapa rambut panjang yang jarang, sering melipat kedalam, ukurannya 12-40 cm panjang dan 4- 10 mm lebar Rumput ini bermanfaat karena punya kandungan kimia yaitu mengandung saponin, tanin, polifenol, protein dan lemak Daun digunakan sebagai obat bisul, Penyubur rambut.

Kingdom                    : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom               : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi               : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi                          : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas                           : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas                    : Commelinida
Ordo                            : Poales
Famili                         : Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus                         : Eleusine
Spesies                        : Eleusine indica (L.) Gaertn
Habitat                        : tumbuh di daerah pantai < 1.600 mdpl.
Penggunaan                 : Daun digunakan sebagai obat bisul dan penyubur rambut.

Ekologi :  Berbunga pada bulan Juli- Oktober. Habitat yang biasa dijumpai halaman rumput, sela-sela trotoar dan beton, pinggir jalan, rel kereta api, sisa tempat. Asal dari Afrika.Rumput jenis ini banyak ditemukan sepanjang seluruh Missouri. Mudah untuk mengidentifikasi rumput ini karena penampilannya.E. indica dapat ditemukan di daerah yang hangat dan tropis yang hampir di seluruh dunia. Hanya ada sekitar 9 jenis dalam spesies ini.
Morfologi : Herba, dengan perakaran yang kuat, berumpun dengan jumlah sedikit buluh sering bercabang pada bagian pangkalnya, tinggi tiap buluh bias mencapai 50 cm, tiap buku terdapat 3-5 daun yang saling menutupi, dari ketiak daun tumbuh tunas baru. Pelepah berwarna hijau muda, berbulu halus penjang. Perbungaan : tegak berdiri di atas 4-6 bulir terpusat diujung, 1 atau 2 bulir yang dibawah berseling, panjang bulir 3-5 cm, buliran rata dan licin 4-12 bunga. Habitat gulma Eleusine indica tumbuh di daerah pantai sampai ketinggian 1.600 m dpl. Salah satu keguanaan dari gulma ini yaitu Daun digunakan sebagai obat bisul dan penyubur rambut.

5. CYNODON DACTILON
Rumput menahun dengan tunas menjalar yang keras, tinggi 0.1 – 0.4 m. Batang langsing, sedikit pipih, yang tua dengan rongga kecil. Daun kerapkali jelas 2 baris. Lidah sangat pendek. Helaian daun bentuk garis, tepi kasar, hijau kebiuran, berambut atau gundul, 2.5 – 15 kali 0.2 – 0.7 cm. Bulir 3 – 9, mengumpul, panjang 1.5 – 6 cm.
Poros bulir berlunas. Anak bulir berdiri sendiri, berseling kiri kanan lunas, menghadap ke satu sisi, menutup satu dengan yang lain secara genting, duduk, ellips memanjang, panjang kurang lebih 2 mm, kerapkali keungu-unguan. Sekam 1 – 2 yang terbawah tetap tinggal. Jumlah benang sari 3, tangkai putik 2, kepala putik ungu, muncul di tengah-tengah anak bulir.

Kingdom         :           Plantae
Ordo                :           Poales
Famili              :           Poaceae
Genus              :           Cynodon
Species            :           C. dactylon

Ekologi : Terutama di daerah dengan musim kemarau yang tegas, di daerah cerah matahari < 1 – 1650 m.
Morfologi : daunnya berbentuk pita, meruncing. Batangnya berbentuk silindris. Akarnya merupakan akar serabut.

6.  ISACHNE GLOBASA

Kingdom         : Plantae
Cladus             : Angiosperms
Cladus             : Monocots
Cladus             : Commelinids
Ordo                : Poales
Familia            : Poaceae
Subfamilia       : Panicoideae
Tribus              : Isachneae
Genus              : Isachne
Species            : Isachne globosa

            Ekologi : Gulma ini hidup di air dan juga di luar air . Gulma ini bisa hidup di air di kedalaman 0,7 m.
Morfologi : Leaves with ligule a rim of cilia 1.5–3 mm long; blade flat, 3–8 mm wide, lightly scabrous.  Panicle at first loosely contracted, at length stiffly spreading, 2–10 cm long and almost as wide, the spikelets towards the ends of the branchlets. Spikelets globose, 2–2.5 mm long. Glumes equalling the spikelet, glabrous, subequal, 7–9-nerved. Rachilla disarticulating above glumes and, eventually, above the lower floret, the upper joint remaining attached as a short stipe to the base of the upper floret. Lower lemma male, 2–2.5 mm long, smooth, glabrous, 7-nerved. Upper lemma female or bisexual, on a stipe c. 0.4 mm long, c. 1.75 mm long, shortly hirsute towards the margins in the upper part.












7. CYPERUS ROTUNDUS

Rumput teki (Cyperus rotundus L.) sebagai salah satu tumbuhan obat Indonesia, memiliki rimpang yang mengandung saponin, flavonoid, alkaloid, terpenoid dan minyak atsiri. Diduga diantara kandungan tersebut bersifat antiestrogen. Untuk melengkapi informasi tentang pemanfaatan tumbuhan tersebut telah dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak rimpang Cyperus rotundus L (Teki) terhadap sel-sel epitel vagina (siklus estrus), bobot estrus dan struktur histologis ovarium mencit betina (Mus musculus L) sebagai sasarannya.
Ekologi. Teki dapat tumbuh meluas terutama di daerah tropis kering, berkisar pada ketinggian 1-1000 mdpl dan curah hujan antara 1500-1400 mm pertahun. Umbi teki mampu berkecambah (bertunas) pada kisaran suhu 10° - 40° C, dengan suhu optimal 30° - 35° C. Pertumbuhan umbi teki tergantung pada suhu dan intensitas cahaya serta kedalamanya.
Morfologi. Gulma ini hampir selalu ada disekitar segala tanaman budidaya, karena mempunyai kemampuan tinggi untuk beradaptasi pada jenis tanah yang beragam. Gulma ini termasuk gulma perennial dengan bagian dalam tanah terdiri dari akar dan umbi. Umbi tidak tahan kering, selama 14 hari di bawah sinar matahari, daya tumbuhnya akan hilang. Batang berbentuk tumpul atau segitiga. Daun pada pangkal batang terdiri dari 4-10 helai, pelepah daun tertutup tanah. Helai daun bergaris dan berwarna hijau tua mengkilat. Bunga mempunyai benang sari tiga helai , kepala sari kuning cerah, sedang tangkai putik bercabang tiga, berwarna coklat.

SDR
Perbandingan nilai penting (SDR). SDR menunjukan nilai penting dibagi jumlah besaran SDR. Biasanyadipakai karena jumlah tidak lebih dari 100% sehingga mudah diinterpretasikan. SDR suatu jenis = Nilai Penting .
SDR suatu jenis = Nilai penting
                                    
Dari praktikum yang dilakukan diperoleh 7 (tujuh) macam gulma sebelum diberikan herbisida yaitu Ageratum conyzoides, Eleusine indica, Cyperus rotundus, Hydroles spinosa,Cleome viscose L., Isathne globassa, dan Cynodon dactylon Nilai Jumlah Dominasi  (SDR)  tertinggi terdapat pada gulma Ageratum conyzoides yaitu sebesar 31,143% dan Nilai Jumlah Dominasi  (SDR)  terendah terdapat pada gulma Hydroles spinosa yaitu sebesar 4,203%. Kemudian setelah diberikan herbisida gulmanya berkurang menjadi 5 (lima) macam gulma yaitu Ageratum conyzoides, Eleusine indica, Cyperus rotundus,Cleome viscose L., Isathne globassa. Nilai Jumlah Dominasi  (SDR)  tertinggi terdapat pada gulma Cleome viscose L. yaitu 39,863% dan Nilai Jumlah Dominasi  (SDR)  terendah terdapat pada gulma Ageratum conyzoides yaitu 8,273%.







Pengendalian gulma
Pengendalian gulma merupakan subjek yang sangat dinamis dan perlu strategi yang khas untuk setiap kasus. Beberapa hal perlu dipertimbangkan sebelum pengendalian gulma dilakukan:
·         jenis gulma dominan
·         tumbuhan budidaya utama
·         alternatif pengendalian yang tersedia
·         dampak ekonomi dan ekologi
Pengendalian gulma dalam bidang pertanian ini dapat mengurangi jumlah gulma yang tumbuh dan dapat merusak tanaman yang tumbuh .  Gulma tersebut dapat menimbulkan penyakit pada tanaman. Dalam praktikum identifikasi dan analisis vegetasi ini dilakukan tiga perlakuan pada ketiga lahan untuk membasmi gulma yang ada di ketiga lahan tersebut. Lahan pertama diberi perlakuan dengan cara konvensional .Lahan kedua diberi perlakuan dengan menyemprotkan herbisida sistemik, sedangkan lahan ketiga disemprot dengan herbisida kontak.
Berikut ini adalah penegertian-pengertian pengendalian gulma yang dicoba pada praktikum diatas. Pengendalian gulma dengan cara konvensional yaitu dengan mencabut gulma di dalam petakan. Lalu Menurut Moenandir (1990), Herbisida dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara.  Klasifikasi menurut cara kerja, dikenal herbisida kontak dan sistemik.  Herbisida kontak dikenal karena mengakibatkan efek bakar yang langsung dapat dilihat terutama pada penggunaan dengan kadar tinggi, seperti asam sulfat 70 persen, besi sulfat 30 persen, dan tembaga sulfat 40 persen.  Herbisida kontak merusak bagian tumbuhan yang terkena langsung dan tidak ditranslokasikan ke bagian tumbuhan yang lain.
Berdasarkan cara kerjanya, herbisida dibedakan menjadi dua, yaitu herbisida kontak dan sistemik.




·         Herbisida kontak
Adalah herbisida yang langsung mematikan jaringan atau bagian gulma yang terkena larutan herbisida, terutama bagian bagian gulma yang berwarna hijau. Herbisida jenis ini bereaksi sangat cepat dan efektif jika digunakan untuk memberantas gulma yang masih muda danberwarna hijau, serta gulma yang memiliki sistem perakaran yang tidak meluas. Di dalam jaringan tumbuhan, bahan aktif herbisida kontak hampir tidak ada yang ditranslokasikan. Jika ada, bahan tersebut ditranslokasikan melalui floem. Karena hanya mematikan bagian gulma yang terkena, pertumbuhan gulma kembali dapat terjadi sangat cepat. Dengan demikian, rotasi pengendalian menjadi lebih singkat. Herbisisda kontak memiliki dosis dan air pelarut yang lebih besar agar bahan aktifnya merata ke seluruh permukaan gulma dan diperoleh efek pengendalian yang lebih baik. Contoh herbisida kontak yaitu gromoxone, herbatop, dan paracol. Herbisida yang bersifat kontak hanya mematikan bagian hijau tumbuhan yang terkena semprotan. Herbisida ini cocok untuk mengendalikan gulma annual, karena bila terkena akan menyebabkan mati secara keseluruhan. Sedangkan untuk gulma perennial bila terkena herbisida ini hanya seperti dibabad bagian atasnya, karena bagian perakaran tidak mati. Untuk herbisida sistemik diberikan pada tumbuhan (gulma) setelah diserap oleh jaringan daun kemudian ditranslokasikan ke seluruh bagian tumbuhan tersebut. Misalnya titik tumbuh, akar, rimpang dan lain-lain sehingga gulma tersebut akan mati total (Sukman dan Yakup, 1991).

·         Herbisida sistemik
Bahan aktif herbisida sistemik dapat diserap dan ditranslokasikan ke seluruh bagian atau jaringan gulma, mulai dari daun sampai ke perakaran atau sebaliknya. Reaksi kematian gulma terjadi sangat lambat karena proses kerja bahan aktif herbisida sistemik tidak langsung mematikan jaringan tanaman yang terkena, namun bekerja dengan cara mengganggu proses fisiologis jaringan tersebut. Efek kematian terjadi hamper merata ke seluruh bagian gulma, mulai dari bagian daun sampai perakaran. Dengan demikian, proses petumbuhan kembali juga terjadi sangat lambat sehingga rotasi pengendalian dapat lebih lama (panjang). Penggunaan herbisida sistemik secara keseluruhan dapat menghemat waktu tenaga kerja, dan biaya aplikasi.
Herbisida sistemik dapat digunakan pada semua jenis alat semprot, termasuk sistem ULV (Micron Herbi), karena penyebaran bahan aktif ke seluruh gulma memerlukan sedikit pelarut. Contoh herbisida sistemik diantaranya roundup, starane, sunup, Polaris, tordon dll (Barus, 2003).
Herbisida mempunyai kemampuan untuk dapat membunuh meskipun dalam konsentrasi rendah.
Bentuk molekul. Keragaman dalam bentuk molekul dari herbisida mengubah dan memodifikasikan pengaruhnya pada tumbuhan. Segi lian dari sifat kimiawi sehubungan dengan kepekaan gugusan tersebut untuk dipatahkan karena cahaya, mikro organisme, ke duanya dalam tanah dan tumbuhan.
Konsentrasi herbisida. Tentang konsentrasi herbisida, jumlahnya dapat menentukan terjadinya hambatan atau pemacuan pada suatu pertumbuhan. Pada uunya dengan yakin meningkatkan konsentrasi makin meningkat pula kepekaannya.
Formulasi herbisida.bagi suatu spesies, selektivitas herbisida sangat ditentukan oleh bentuk formulasinya. Tipe formulasinya. Tipe formulasi yang mengindusir selektivtas ialah bentuk butiran pejal, atau surfactant maupun adjuvant.
“Made of action”.Aspek ini juga termasuk yang penting dalam pengaruhnya pada selektivitas herbisida, yang sangat tergantung pada sifat kimiawi tumbuhan maupun herbisidanya sendiri. Keseimbangan dalam faktor-faktor tersebut menentukanluasnya kerusakan pada tumbuhan.
Pada praktikum ini pengendalian gulma dengan cara kovensional pada lahan 1, dengan cara memberikan herbisida kotak pada lahan 2, lalu herbisida sistemik pada lahan 3 menunjukan perubahan. Pada lahan tersebut ada 7 jenis gulma pada ketiga lahan tersebut. Lalu ketika pengendalian dilakukan yaitu  dengan cara konvensional dan pemberiam herbisida,gulma yang tumbuh di ketiga lahan tersebut hanya tumbuh 5,sehingga hal tersebut menunjukan bahwa pengendalian tersebut berpengaruh pada lahan-lahan tersebut.




Efek Herbisida
        Herbisida digunakan untuk mengurangi pertumbuhan gulma dan membasmi gulma yang tumbuh di lahan pertanian kita . Efek herbisida kontak adalah efek cepat ,hanya membunuh bagian gulma yang terkena lalu rotasi pengendalian herbisida kontak ini pendek sehingga bisa menyebabkan gulma bisa cepat tumbuh lagi. Sedangkan efek herbisida sistemik adalah efek lama,menyerang sitem jaringan gulma  lalu rotasi pengendalian efek ini panjang sehingga gulma pun menjadi lama untuk tumbuh nya.
          























BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


V. A. KESIMPULAN

1. Gulma adalah tanaman yang tidak dikehendaki oleh para penanam, karena tanaman ini tumbuhnya salah tempat, tidak dikehendaki dan merugikan.

2. Gulma dengan tanaman budidaya yang tumbuh berdekatan dan bersamaan akan saling mengadakan persaingan. Dalam seluruh siklus hidup tanaman, persaingan gulma tidak memberikan akibat negatif yang parah.

3. Cara-cara identifikasi gulma :Membandingkan gulma tersebut dengan material      yang telah diidentifikasi di herbarium,Konsultasi langsung dengan para ahli di bidang yang bersangkutan,Mencari sendiri melalui kunci identifikasi, Membandingkan dengan determinasi yang ada,Membandingkan dengan ilustrasi yang tersedia

4. Gulma dapat dibedakan menjadi beberapa golongan: sesuai dengan bentuk daun, lama hidupnya, habitat hidupnya ,serta dari sudut pentingnya.

V. B. SARAN

1, Saat mengidentifikasi haruslah teliti. Antara gulma yang kita amati dengan gulma yang ada di buku pedoman gulma.

2. Serta penghitungan hasil analisis harus lebih teliti




DAFTAR PUSTAKA



Barus, Emanuel. 2003. Pengendalian Gulma di Perkebunan. Kanisius: Yogyakarta
Feitriani,Wulan.2009. Klasifikasi Gulma Berdasarkan Morfologi. Tugas Dasar Teknik Perlindungan Tanaman I Unpad

Fitler, A.H. 1981. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gajahmada Press : Yogyakarta
Maspary.2010.Penggolongan Gulma Tanaman. http://gerbangtani.blogspot.com/2010/05/penggolongan-gulma-tanaman.html. Diakses tanggal 30 oktober 2010

Moenandir, Jody. 1990. Pengantar ilmu dan pengendalian gulma. Rajawali Press
  Jakarta.
Moenandir, Jody. 1990. Ilmu Gulma dalam Sistem Pertanian. PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Natawigena, H. 1993. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Trigenda Karya, Bandung
Sudarmo, Subiyakto. 1991. Pengendalian Serangga Hama, Penyakit dan Gulma. Kanisius : Yogyakarta
Sebayang. 2005.Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Rajawali Pers, Jakarta.
Tjitrosoedirdjo, dkk. 1984. Pengelolaan Gulma di Perkebunan. Gramedia :  Jakarta.
                                               

    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar